"Kapan???" tanyamu....
"segera akan nampak pada langit khayalmu, terlukis pada dinding harapanmu dan terdengar saat jiwamu kembali bersenandung" jawab dia...
"Iya...Kapan itu?? desak mu....
"nanti...bukan hari ini karena langitmu masih mendung, bukan besok karena tembok harapan lagi kau bangun kembali, dan mungkin lusa, saat kau dapat bernyayi lagi, menikmati sejarah yang telah kau lalui" Kata dia mencoba menenangkannya...
Dengan penuh emosi kau berkata..."Aku tidak mengerti, di mana awan gelapnya saat kau katakan mendung? aku tak pernah merangkai asa dalam runtuhan ke putus asa an karena yang ada adalah membangun tembok pembatas antara kenyataan dan keinginan...dan jangan pernah mengguruiku tentang bagaimana memperlakukan sejarah, karena kau tak pernah berada dalam satu rangkaian cerita yang kumiliki."
Dengan tenang dia menjawab..."di emosi mu awan gelapnya berada, harapan yang kau coba bangun adalah harapan untuk memisahkan kenyataan dan keingiinan yg bagaikan memisahkan minyak dalam air, dan karena aku tak pernah berada dalam kisah hidupmu maka aku dapat dengan mudah berkata-dalam keadaan objektif!"
"Lepaskan aku dalam pikiranmu...aku tak mau kau mainkan dalam irama retorika yang kau sendiri tak berani mewujudkannya...." kata mu sambil melangkah pergi.
"Tak akan pernah kulepaskan, karena kau maka aku dapat berpikir tentang kenyataan dari sebuah khayalan "....kata dia sambil menantapmu pergi.....
@mabes Impas
230809
Hasil jebakan biscal
wkwkwkwkwkwkw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar